Facebook termasuk dalam kategori situs jejaring sosial seperti Friendster, MySpace, Multiply, Yuwie yang menyediakan media bagi para penggunanya untuk saling bertukar informasi dan berinteraksi. Facebookdiluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2006 oleh seorang pemuda Yahudi berumur 24 tahun mahasiswa Harvard University AS, Mark Zuckerberg.
Dalam waktu singkat, situs ini sanggup memikat jutaan pengguna. Selain kemudahan membuat akun, Facebook juga sangat mudah dikelola dan dilengkapi fitur-fitur menarik yang bisa dioptimalkan untuk menjaring pergaulan sosial di dunia maya yang lebih luas.
Di lain sisi seiring dengan perkembangan infrastruktur teknologi dalam negeri yang terus berkembang dan meluas hingga ke pelosok-pelosok dusun, proses interaksi dan komunikasi di dunia maya ibarat hujan yang turun dari langit yang membanjiri di seluruh area penjuru. Manusia mulai dimanjakan dalam berinteraksi dan berkomunikasi jarak jauh. Handphone yang dulu hanya bisa dinikmati oleh kaum berkantong tebal, akan tetapi kini sudah menjadi piranti atau profan yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Bahkan, internet pun tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang mewah, tetapi hampir sudah mewabah dan menyatu di tengah-tengah kehidupan masyarakat luas. Warung internet (warnet) terus bermunculan di berbagai sudut kampung bak jamur di musim hujan..
Merujuk pada hal di atas, Salah satu unsur/hal terpenting dalam proses komunikasi adalah saluran/media. Seorang komunikator dalam proses komunikasi pastilah menggunakan unsur media sebagai alat penyampai pesan kepada komunikannya. Tujuannya antara lain agar dapat memudahkan proses pengiriman pesan agar komunikan dapat dengan mudah menerimanya
Tak jarang akhir-akhir ini muncul beberapa Fenomena baru yang cukup menarik perhatian ku. Apa itu...????
Dewasa ini Facebook tak hanya digunakan sebatas pada media interaksi semata, namun dapat dipergunakan untuk menunjang pemenuhan tujuan politik.. Yang artinya Facebook di andalkan sebagai saluran/alat bagi terciptanya proses komunikasi politik, sungguh sebuah Fenomena yang unik… Bahkan yang tidak kalah menariknya melalui facebook juga pemerintah dapat mengirim pesan pada rakyat atau sebaliknya khalayak/rakyat yang mengirim kritik atau tanggapan atas kebijakan-kebijakan pemerintah itu sendiri.
Sebagai gambaran.. Dalam proses persiapan pemilihan kepala daerah Jambi yang di selenggarakan pada tanggal 19 Juni 2010 yang lalu, ada sebagian dari para kandidat calon Gubenur dan Wakil Gubenur berhasil memanfaatkan itu untuk menampung “kekayaan” virtual/Jaringan, menerima tamu, menjalin silaturahmi, membangun interaksi sosial, atau aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan dengan entitas dan eksistensi kita sebagai makhluk social di sekitar rumah maya itu. Yang artinya jejaring social (facebook) sangat dapat digunakan sebagai saluran yang mentransmisikan pesan politik pada khalayak untuk mempersuasi dan menghimpun dukungan... (klik di sini)
Facebook menjadi pilihan yang banyak diminati karena selain praktis dan murah, juga mensyaratkan terjadinya feedback (Umpan Balik) secara cepat melalui fasilitas obrolan atau sekedar meninggalakan komentar... Dan para Facebookers (Pengguna Faceebook) dapat menilai dan mendiskusikan program-program yang diusung dari masing-masing calon kepala daerah. Khalayak atau masyarakat dalam hal ini dapat menyampaikan secara langsung kritikan ataupun pandangan-pandangannya. Dengan sendirinya menjelma menjadi system yang sangat berguna untuk membangun kedekatan antara komunikator dan komunikan politik itu sendiri.
Alhasil, ini seperti jelma'an sebuah perkampungan dunia yang dihuni oleh orang-orang dari berbagai kalangan. Facebook sanggup menanggalkan jejak-jejak primordial dan sentimen lokalitas para penggunanya. Mereka seperti memasuki sebuah perkampungan global yang demokratis.
Timbulah pertanyaan, apakah kehadiran FB akan terus ”memfosil” sebagai jejaring sosial yang nyaman dan permanen atau hanya singgah sesaat dalam kubangan memori penggunanya hingga akhirnya terlupakan? Tak tahu pasti. Waktu juga nanti yang akan mengujinya..
Dan yang menjadi persoalannya sekarang, kalau FB biasa dimanfaatkan untuk memberikan pencerahan kepada publik, kenapa mesti ada yang “melacurkan” diri dengan berbuat sensasional yang pasti akan mengundang risiko sosial yang fatal? Kenapa tidak dimanfaatkan untuk ikut berkiprah membangun dan “menyembuhkan” peradaban yang sakit dengan mengangkat persoalan-persoalan personal dan sosial yang bisa menyuburkan nilai-nilai demokrasi dan membawa keuntungan buat banyak orang??
Memang, tak seorang pun yang bisa mencegah kehendak seseorang dalam berekspresi. Mereka bisa memanfaatkan jejaring sosialnya untuk mempublikasikan beragam aliran (genre) tulisan yang sesuai dengan selera personalnya.
Namun, fakta juga menunjukkan bahwa tulisan-tulisan yang cenderung hanya sekadar mengumbar sensasi dan popularitas tak akan berumur panjang.. Fakta juga telah menunjukkan bahwa kekuatan jejaring sosial (facebook) bisa memperkuat putaran bandul demokrasi di tengah-tengah situasi zaman yang makin korup dan amburadul. Dengan berbagai macam gaya dan genre (aliran), para facebooker, misalnya, bisa menunjukkan sikap empati kepada pihak-pihak yang dianggap terzalimi, sehingga bisa memberikan tekanan dan kontrol sosial secara masif.
Meski demikian, peran-peran semacam itu kembali terpulang kepada para individu (Faceboker) dan penggiat dunia maya itu sendiri. Sanggupkah mereka berperan sebagai pengwal demokrasi dengan mengedepankan sikap kritis, jujur, dan steril dari kepentingan kekuasaan dalam menjalankan aktivitasnya di ranah dunia maya? Atau justru berkehendak untuk membuat sensasi dan memburu popularitas.?? “answering time”



